Karakteristik Pemimpin Yang Memicu Kebangkrutan Usaha

Maju-mundurnya sebuah usaha, cukup dipengaruhi oleh gaya kepemimpinan para pemiliknya. Bahkan bisa dikatakan kemana roda bisnis akan melaju,,,

Dari OB Jadi Vice President Citibank "Houtman Zainal Arifin"

Sungguh sebuah karunia yang luar biasa bagi saya bisa bertemu dengan seorang yang memiliki pribadi dan kisah menakjubkan. Dialah Houtman Zainal Arifin, seorang pedagang asongan, anak jalanan, Office Boy yang kemudian menjadi Vice President Citibank di Indonesia,,,

1 meter lagi...

Salah satu penyebab kegagalan yang paling umum adalah berhenti ketika kita menghadapi sebuah kekalahan sementara dan banyak orang sering melakukan kesalahan ini,,,

Gembira Itu Murah

Lama saya tidak menulis (untuk majalah LuarBiasa maupun AndrieWongso.com), karena saya sibuk bergembira. Saat saya libur menulis saya bergembira, saat menulis saya juga bergembira....

Profil Usaha

Usaha ini didirikan pada tanggal 7 April 2012,,,

Rabu, 19 September 2012

Gembira Itu Murah





Lama saya tidak menulis (untuk majalah LuarBiasa maupun AndrieWongso.com), karena saya sibuk bergembira. Saat saya libur menulis saya bergembira, saat menulis saya juga bergembira. Artinya,gembira itu bisa berada di balik apa saja. Ia tidak tergantung pada apa, tetapi tergantung di bagaimana. Tidak tergantung apa yang menjadi milik Anda, tetapi terletak di bagaimana memperlakukan milik Anda.


Saat saya menulis saya gembira, karena tulisan melebarkan seluruh kemungkinan yang saya tak sanggup merabanya. Saat libur menulis saya juga gembira, karena libur itu kegembiraan. Royalti menulis buku itu relatif kecil. Tetapi royaltimemangrezeki paling kecil dari menulis buku. Terbesar adalah rezeki kemungkinan. Di antara kemungkinan itu, terdapat apa yang disebut rezeki kemartabatan. Memiliki banyak uang tanpa memiliki kemartabatan, ia bukan kekayaan.

Rasa bermartabat itulah gudang kebahagiaan. Para pemburu kekuasaan di aneka pilkada misalnya, rata-rata adalah pribadi yang sudah berkecukupan. Berkelebihan malah. Tetapi uang tanpa kekuasaan, rasanya seperti ada yang kurang. Anda boleh banyak uang, tetapi kalau statusnya hanya orang kaya, danbukan orang yang berkuasa, kedudukan Anda tetaplah orang awam. Parkir harus tetap berdesakan. Datang tak disambut, pergi tak diantar, ketemu tak disalami. Ini menyakitkan bagi sementara pihak. Hanyakekuasaanlah yang membuat parkir menjadi mudah tak peduli sedang berada di puncak kemacetan. Kekuasaan itu diburu, lebih darisekadar alasan uang tapi lebih karena di sana ada keadaan berkuasa. Di dalam rasa berkuasa itulah terdapat rasa menang dan bahagia.

Tetapi saya tidaksedang bicara kekuasaan dalam format politik yang penuh bias itu. Saya sedang bicara tentang "kekuasan otentik" sebagai sumber kebahagiaan yang valid. Dan ini jauh melampui kekuasan bupati, walikota, gubenur, presiden dan semacamnya. Pendek kata, ia bukan kekuasan struktural tetapi "kekuasan personal".Jadi person yang berkuasa itulah maksud saya, bukan pangkat, jabatan dan uang. Itulah yang oleh mendiang Stephen Covey disebut sebagai "kemenangan pribadi". Dan pribadi-pribadi yang menang itu bukan karena dukungan apa pun selain dukungan mutu pribadinya.

Pribadi yang menang memang bisa sekaligus pribadi yang kaya, terkenal, dan berkuasa. Tetapi di tangan pribadi yang menang, seluruh soal yang ia miliki, tak terkecuali uang, hanya pendukung kemenangannya menjadi semakin menang. Sementara di tangan pribadi yang kalah, apa saja yang menjadi miliknya, takpeduli uang, plus jabatan, plus kekuasaan, hanya akan menambah kekalahannya.

Banyak sekalibukti jabatan yang meninggi hanya untuk membawa hidup seseorang malah merendah. Uang membanyak malah membuat mutu hidup menyedikit. Kekuasaan bertambah malah membuat kegembiraan berkurang.
Jadi, kemenangan pribadi itu pada awalnya, benar-benar adalah kemenangan pribadi. Tak ada hubungan dengan uang dan jabatan. Jika Stephen Covey dipinjam sebagai contoh, ia lahir dari keluarga kaya. Ia punya warisan bisnis yang tak ia ambil dan memilih menjadi guru dan misionaris.Jadi panggilan kemenangan itu tidak terlalu melayani uang jika jalurnya berseberangan. Tapi Covey pasti tidak anti uang sepanjang ia menyukai prosesnya dalam memperoleh uang. Tidak murah membayar Stephen Covey dan ia pasti gembira dengan tarifnya, apalagi tarif itu ada di jalur yang selaras dengan panggilan hatinya. Jadi sulit mengatakan ia mata duitan. Duit di tangan para pemenang itu bukan melulu soal jumlah, tetapi juga soal proses.

Mental menang ini tidak hanya bisa diakses oleh orang-orang dengan setting sosial seperti Stephen Covey. Ini zona bebas status. Ini pintu yang terbuka yang siapa saja boleh mengetuknya. Pintu itu jauh, tapi juga dekat. Tepatnya ia dekat secara jarak, tetapi jauh secara dimensi. Kematian itu hanya setipis serat dengan hidup. Tetapi perjalanan yang sedekat itu tak bisa ditempuh walau dengan cara mengitari jagat raya dengan mengendarai pesawat secepat cahaya pula. Ada jarak, yang meskipun telah ditempuh sampai jauh tetapi sia-sia. Itulah perjalanan yang salah peta. Tapi jarak sejauh itu menjadi amat dekat ketika tepat kendaraannya yakni: mati. Maka pintu kemenangan itu letaknya ada di dalam diri sendiri.

Kini jelas, menang mulai dari diri sendirilah perang yang tak berkesudahan dan tak ada jaminan ada banyak pemenang. Di dalam diri sendiri ini ada banyak lawan, untuk lawan pertama, lawan paling mudah di kalahkan saja, sudah langsung menjadi lawan yang sulit dikalahkan, yakni panca indra. Indra itu, satu saja sudah musuh yang berat, apalagi lima. Mata misalnya. Banyak sekali tuntutan kepuasannya. Berapa banyak industri raksasa lahir dan mengeduk untung yang juga raksasa hanya dengan memakai mata sebagai segmen pasarnya.

Itu saja baru mata yang dirangsang secara eksternal, belum mata yang dirangsang secara internal. Saya ini lelaki, dan sudah menjadi seorang suami. Tetapi begitu melihat ada wanita cantik berkelebat, rasanya berat sekali untuk menahan diri. Setidaknya melirik dan mencuri-curi. Saya memang tidak melihat secara terus terang karena malu pada istri. Kalau istri sedang tak ada, saya malu pada diri sendiri. Malu tapi mau, itulah persoalannya. Saya bukan orang kuat melawan mata saya. Jika selama ini saya mencoba kuat, itu lebih karena saya bekerja sangat keras untuk menekan kemauan mata saya. Perlawanan itu sebenarnya hanya menunjukkan betapa lemah saya di hadapan panca indra.

Tapi hanya kuat melawan kehendak mata saja, tiba-tiba ada sesuatu yang menguat di dalam diri saya. Berbeda rasanya dengan saat saya kalah melawan kehendak mata. Serasa ada yang merosot dalam hidup saya. Rasa merosot itulah yang mendatangkan rasa susah, sementara rasa kuat itulah yang mendatangkan rasa bahagia. Jadi jelas, kebahagiaan itu lebih banyak menghuni ranah nilai, dan nilai itu bisa terletak di apa saja, di mana saja, sepanjang nilainya memang dijaga dan dimunculkan. Maka apa saja yang Anda punya, termasuk keterbatasan, akan menjadi sumber kebahagiaan kalau ia diubah menjadi sumber nilai.

sumber :
Prie GS 
www.andriewongso.com/artikel/artikel_tetap/5684/Gembira_Itu_Murah/

1 meter lagi...




Salah satu penyebab kegagalan yang paling umum adalah berhenti ketika kita menghadapi sebuah kekalahan sementara dan banyak orang sering melakukan kesalahan ini.

Ketika masa perburuan emas dimulai, seorang paman teman saya R.U. Darby terkena “demam emas” dan dia pergi ke barat menuju Colorado untuk mencari emas dengan impian besar untuk menjadi orang yang kaya raya (dia tak pernah mendengar bahwa lebih banyak emas yang telah digali dari pemikiran orang-orang daripada yang telah digali dari bumi). Dia telah bertekad bulat untuk mencari emas dan setiap hari pergi bekerja dengan cangkul dan sekop untuk mencari emas yang dicarinya.

Setelah berminggu-minggu bekerja keras, dia menemukan bijih emas yang berkilauan itu. tetapi, dia memerlukan peralatan untuk mengangkat bijih emas itu ke permukaan. Diam-diam dia menutup tambang emas yang telah ditemukannya dan kembali ke rumahnya di Williamsburg, Maryland. Dia memberi tahu beberapa kerabat dekat dan tetangganya mengenai penemuannya. Setelah berunding, akhirnya mereka segera mengumpulkan uang dan berencana untuk membeli peralatan menambang emas dan mengirim hasil tambang emas mereka ke pabrik. R. U. Darby memutuskan untuk bergabung dengan pamannya, dan mereka kembali untuk menggarap tambang emas itu.

Gerobak pertama bijih emas tersebut berhasil digali dan dikapalkan ke sebuah pabrik peleburan logam. Hasilnya ternyata sangat menggembirakan. Hasil ini membuktikan bahwa mereka memiliki salah satu tambang emas paling kaya di Colorado. Dengan beberapa gerobak lagi mereka akan bisa melunasi utang-utang mereka. Kemudian mereka akan meneguk keuntungan sebesar-besarnya.
Semakin dalam penggalian mereka, semakin tinggi harapan Darby dan sang Paman. Kemudian terjadi sesuatu diluar dugaan mereka semua. Urat bijih emas itu menghilang! Mereka telah sampai di ujung pelangi, dan guci emas tak ada lagi di sana. Mereka terus menggali, dengan putus asa mencoba mencari urat bijih emas itu lagi – tetapi sia-sia. Berhari-hari mereka menggali dan menggali. Tetapi tampaknya memang urat bijih emas itu tidak ada lagi.

Akhirnya mereka memutuskan untuk berhenti.

Dengan putus asa dan wajah penuh kekecewaan, mereka menjual peralatan mereka ke seorang pedagang loak dengan harga yang sangat murah dan kembali ke kota asal. Kemudian, ketika para penambang emas sudah pergi dan menutup tambangnya, si pedagang loak memanggil seorang insinyur pertambangan untuk memeriksa tambang emas itu dan membuat perhitungan. Hasil pemeriksaan Insinyur itu menyatakan bahwa proyek tersebut gagal karena para pemiliknya tidak terlalu paham dengan ilmu bumi khususnya mengenai urat emas. Perhitungannya menunjukkan bahwa urat biji emas akan ditemukan hanya satu meter dari tempat kedua Darby itu berhenti menggali. Ketika penggalian dilanjutkan… memang disitulah emas yang disangka sudah menghilang itu berada! Si pedagang loak meraih jutaan dolar dari bijih di tambang tersebut karena dia tahu untuk bertanya kepada yang lebih ahli dibidangnya.

Lama setelah perisitiwa itu, Mr. Darby berkali-kali mencari uang untuk menutup kerugian akibat proyek tambang emasnya. Setelah mencoba berkali-kali akhirnya ia menemukan ‘tambang emas baru’ yang merupakan bisnis penjualan asuransi jiwa.

Tanpa pernah melupakan bahwa dia telah kehilangan keuntungan yang sangat besar karena berhenti satu meter dari emas itu, Darby memanfaatkan pengalaman itu dalam bidang baru yang ditekuninya. Dalam hati dia berkata, “Saya pernah berhenti satu meter dari emas, tapi saya takkan pernah berhenti karena ditolak orang-orang ketika saya meminta mereka membeli asuransi.”
Darby menjadi satu dari sekelompok kecil orang yang berhasil menjual asuransi jiwa lebih dari satu juta dolar setiap tahun. Kegigihannya berguru pada pelajaran yang didapatkannya dari bisnis tambang emas.

Sebelum kesuksesan menghampiri kehidupan seseorang, orang itu sudah pasti akan menemui banyak kekalahan sementara, dan, barangkali, kegagalan. Ketika seseorang merasa kalah, yang paling gampang dan paling logis untuk dia lakukan adalah berhenti. Itulah yang akan dilakukan sebagian besar orang.
Lebih dari lima ratus orang paling sukses yang terkenal di negara ini memberi tahu saya kesuksesan terbesar mereka justru datang setelah mereka merasakan kekalahan. Kegagalan adalah seorang penipu dengan ironi dan kelicikan yang kuat. Kegagalan sangat gembira bisa menjegal Anda persis ketika kesuksesan hampir Anda raih.


Referensi: The New Think & Grow Rich, Napoleon Hill

Dari OB Jadi Vice President Citibank "Houtman Zainal Arifin"





Sungguh sebuah karunia yang luar biasa bagi saya bisa bertemu dengan seorang yang memiliki pribadi dan kisah menakjubkan. Dialah Houtman Zainal Arifin, seorang pedagang asongan, anak jalanan, Office Boy yang kemudian menjadi Vice President Citibank di Indonesia. Sebuah jabatan Nomor 1 di Indonesia karena Presiden Direktur Citibank sendiri berada di USA. 

Tepatnya 10 Juni 2010, saya berkesempatan bertemu pak Houtman. Kala itu saya sedang mengikuti training leadership yang diadakan oleh kantor saya, Bank Syariah Mandiri di Hotel Treva International, Jakarta. Selama satu minggu saya memperoleh pelatihan yang luar biasa mencerahkan, salah satu nya saya peroleh dari Pak Houtman. Berikut kisah inspirasinya:

Sekitar tahun 60an Houtman memulai karirnya sebagai perantau, berangkat dari desa ke jalanan Ibukota. Merantau dari kampung dengan penuh impian dan harapan, Houtman remaja berangkat ke Jakarta. Di Jakarta ternyata Houtman harus menerima kenyataan bahwa kehidupan ibukota ternyata sangat keras dan tidak mudah. Tidak ada pilihan bagi seorang lulusan SMA di Jakarta, pekerjaan tidak mudah diperoleh. Houtman pun memilih bertahan hidup dengan profesi sebagai pedagang asongan, dari jalan raya ke kolong jembatan kemudian ke lampu merah menjajakan dagangannya. 

Tetapi kondisi seperti ini tidak membuat Houtman kehilangan cita-cita dan impian. Suatu ketika Houtman beristirahat di sebuah kolong jembatan, dia memperhatikan kendaran-kendaraan mewah yang berseliweran dijalan Jakarta. Para penumpang mobil tersebut berpakaian rapih, keren dan berdasi. Houtman remaja pun ingin seperti mereka, mengendarai kendaraan berpendingin, berpakaian necis dan tentu saja memiliki uang yang banyak. Saat itu juga Houtman menggantungkan cita-citanya setinggi langit, sebuah cita-cita dan tekad diazamkan dalam hatinya. 

Azam atau tekad yang kuat dari Houtman telah membuatnya ingin segera merubah nasib. Tanpa menunggu waktu lama Houtman segera memulai mengirimkan lamaran kerja ke setiap gedung bertingkat yang dia ketahui. Bila ada gedung yang menurutnya bagus maka pasti dengan segera dikirimkannya sebuah lamaran kerja. Houtman menyisihkan setiap keuntungan yang diperolehnya dari berdagang asongan digunakan untuk membiayai lamaran kerja. 

Sampai suatu saat Houtman mendapat panggilan kerja dari sebuah perusahaan yang sangat terkenal dan terkemuka di Dunia, The First National City Bank (citibank), sebuah bank bonafid dari USA. Houtman pun diterima bekerja sebagai seorang Office Boy. Sebuah jabatan paling dasar, paling bawah dalam sebuah hierarki organisasi dengan tugas utama membersihkan ruangan kantor, wc, ruang kerja dan ruangan lainnya.

Tapi Houtman tetap bangga dengan jabatannya, dia tidak menampik pekerjaan. Diterimanyalah jabatan tersebut dengan sebuah cita-cita yang tinggi. Houtman percaya bahwa nasib akan berubah sehingga tanpa disadarinya Houtman telah membuka pintu masa depan menjadi orang yang berbeda. 

Sebagai Office Boy Houtman selalu mengerjakan tugas dan pekerjaannya dengan baik. Terkadang dia rela membantu para staf dengan sukarela. Selepas sore saat seluruh pekerjaan telah usai Houtman berusaha menambah pengetahuan dengan bertanya tanya kepada para pegawai. Dia bertanya mengenai istilah istilah bank yang rumit, walaupun terkadang saat bertanya dia menjadi bahan tertawaan atau sang staf mengernyitkan dahinya. Mungkin dalam benak pegawai ”ngapain nih OB nanya-nanya istilah bank segala, kayak ngerti aja”. Sampai akhirnya Houtman sedikit demi sedikit familiar dengan dengan istilah bank seperti Letter of Credit, Bank Garansi, Transfer, Kliring, dll. 

Suatu saat Houtman tertegun dengan sebuah mesin yang dapat menduplikasi dokumen (saat ini dikenal dengan mesin photo copy). Ketika itu mesin foto kopi sangatlah langka, hanya perusahaan perusahaan tertentu lah yang memiliki mesin tersebut dan diperlukan seorang petugas khusus untuk mengoperasikannya. Setiap selesai pekerjaan setelah jam 4 sore Houtman sering mengunjungi mesin tersebut dan minta kepada petugas foto kopi untuk mengajarinya. Houtman pun akhirnya mahir mengoperasikan mesin foto kopi, dan tanpa di sadarinya pintu pertama masa depan terbuka. Pada suatu hari petugas mesin foto kopi itu berhalangan dan praktis hanya Houtman yang bisa menggantikannya, sejak itu pula Houtman resmi naik jabatan dari OB sebagai Tukang Foto Kopi. 

Menjadi tukang foto kopi merupakan sebuah prestasi bagi Houtman, tetapi Houtman tidak cepat berpuas diri. Disela-sela kesibukannya Houtman terus menambah pengetahuan dan minat akan bidang lain. Houtman tertegun melihat salah seorang staf memiliki setumpuk pekerjaan di mejanya. Houtman pun menawarkan bantuan kepada staf tersebut hingga membuat sang staf tertegun. “bener nih lo mo mau bantuin gua” begitu Houtman mengenang ucapan sang staff dulu. “iya bener saya mau bantu, sekalian nambah ilmu” begitu Houtman menjawab. “Tapi hati-hati ya ngga boleh salah, kalau salah tanggungjawab lo, bisa dipecat lo”, sang staff mewanti-wanti dengan keras. Akhirnya Houtman diberi setumpuk dokumen, tugas dia adalah membubuhkan stempel pada Cek, Bilyet Giro dan dokumen lainnya pada kolom tertentu. Stempel tersebut harus berada di dalam kolom tidak boleh menyimpang atau keluar kolom. Alhasil Houtman membutuhkan waktu berjam-jam untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut karena dia sangat berhati-hati sekali. Selama mengerjakan tugas tersebut Houtman tidak sekedar mencap, tapi dia membaca dan mempelajari dokumen yang ada. Akibatnya Houtman sedikit demi sedikit memahami berbagai istilah dan teknis perbankan. Kelak pengetahuannya ini membawa Houtman kepada jabatan yang tidak pernah diduganya. 

Houtman cepat menguasai berbagai pekerjaan yang diberikan dan selalu mengerjakan seluruh tugasnya dengan baik. Dia pun ringan tangan untuk membantu orang lain, para staff dan atasannya. Sehingga para staff pun tidak segan untuk membagi ilmu kepadanya. Sampai suatu saat pejabat di Citibank mengangkatnya menjadi pegawai bank karena prestasi dan kompetensi yang dimilikinya, padahal Houtman hanyalah lulusan SMA. 

Peristiwa pengangkatan Houtman menjadi pegawai Bank menjadi berita luar biasa heboh dan kontroversial. Bagaimana bisa seorang OB menjadi staff, bahkan rekan sesama OB mencibir Houtman sebagai orang yang tidak konsisten. Houtman dianggap tidak konsisten dengan tugasnya, “jika masuk OB, ya pensiun harus OB juga” begitu rekan sesama OB menggugat. 

Houtman tidak patah semangat, dicibir teman-teman bahkan rekan sesama staf pun tidak membuat goyah. Houtman terus mengasah keterampilan dan berbagi membantu rekan kerjanya yang lain. Hanya membantulah yang bisa diberikan oleh Houtman, karena materi tidak ia miliki. Houtman tidak pernah lama dalam memegang suatu jabatan, sama seperti ketika menjadi OB yang haus akan ilmu baru. Houtman selalu mencoba tantangan dan pekerjaan baru. Sehingga karir Houtman melesat bak panah meninggalkan rekan sesama OB bahkan staff yang mengajarinya tentang istilah bank. 

19 tahun kemudian sejak Houtman masuk sebagai Office Boy di The First National City Bank, Houtman mencapai jabatan tertingginya yaitu Vice President. Sebuah jabatan puncak citibank di Indonesia. Jabatan tertinggi citibank sendiri berada di USA yaitu Presiden Director yang tidak mungkin dijabat oleh orang Indonesia.

Sampai dengan saat ini belum ada yang mampu memecahkan rekor Houtman masuk sebagai OB pensiun sebagai Vice President, dan hanya berpendidikan SMA. Houtman pun kini pensiun dengan berbagai jabatan pernah diembannya, menjadi staf ahli citibank asia pasifik, menjadi penasehat keuangan salah satu gubernur, menjabat CEO di berbagai perusahaan dan menjadi inspirator bagi banyak orang .

(Kisah Nyata Houtman Zainal Arifin, disampaikan dalam training Leadership bank Syariah Mandiri)

Selasa, 18 September 2012

Karakteristik Pemimpin Yang Memicu Kebangkrutan Usaha



Maju-mundurnya sebuah usaha, cukup dipengaruhi oleh gaya kepemimpinan para pemiliknya. Bahkan bisa dikatakan kemana roda bisnis akan melaju, semuanya berada di tangan para pemimpin perusahaan. Sehingga wajar adanya bila sebagian besar orang mengibaratkan seorang pemimpin perusahaan sebagai nahkoda kapal. Sebab, kapan perahu mulai berlayar, kapan berhenti, dan kapan akan menyerang, semuanya berada di bawah kendali sang nahkoda kapal.

Tentunya sebagai seorang pengusaha Anda juga ingin membawa kapal  Anda berlayar tanpa hambatan bukan? Karenanya, untuk membantu para pemula dalam menjalankan roda bisnisnya, pekan ini kami informasikan kepada para pembaca mengenai beberapa karakteristik pemimpin yang perlu kita hindari agar tak terjebak dalam kebangkrutan sebuah usaha.

Pertama, mengutamakan urusan pribadi dan mengesampingan kepentingan bisnis. Banyak pebisnis yang mulai mengesampingkan kepentingan usaha ketika mereka mulai menikmati manisnya kesuksesan yang diraihnya. Padahal, seiring dengan kesuksesan sebuah usaha, bakal semakin besar pula tantangan dan hambatan yang harus mereka hadapi. Sehingga dalam perjalannya, peran seorang pemimpin akan terus dibutuhkan selama bisnis tersebut masih berjalan.

Kedua, terlalu loyal dalam membelanjakan dana usaha. Sebagai pemimpin perusahaan, tentunya Anda harus jeli dan teliti dalam menentukan anggaran belanja. Belakangan ini banyak pemula yang tergoda rayuan promosi sehingga mereka terlalu loyal dalam membelanjakan dana usaha. Contohnya saja seperti membeli mesin canggih berkapasitas tinggi padahal tingkat produktivitas bisnis Anda masih sangat kecil, contoh lainnya yaitu menerima tawaran pameran meskipun peluang pasarnya kurang potensial.

Ketiga, terlalu ambisius. Terkadang semangat entrepreneur yang dimiliki para pemula membuat mereka menjadi pribadi yang ambisius, sehingga nekat melangkah tanpa perhitungan yang benar-benar matang. Karakteristik pemimpin yang seperti inilah yang memicu kebangkrutan usaha. Sebab, mereka berjalan tanpa tujuan dan perencanaan jangka panjang, sehingga wajar adanya bila bisnis mereka juga tidak mampu bersaing dalam waktu yang cukup lama.

Keempat, terjebak hutang. Akibat keloyalan para pemimpin dalam membelanjakan anggaran usahanya, tidak sedikit dari mereka yang akhirnya terjebak hutang dalam jumlah yang cukup besar. Mudahnya akses kredit yang belakangan ini ditawarkan perbankan ataupun lembaga keuangan lainnya, menarik minat para pelaku usaha untuk mengajukan pinjaman uang tanpa memperhatikan untung rugi yang didapatkan perusahaan. Tak heran bila banyak perusahaan yang akhirnya gulung tikar karena tidak mampu membayar hutang usaha yang mereka miliki.

Kelima, kurang memperhatikan kondisi sekitar. Memiliki visi dan misi yang cukup besar, tak jarang membuat para pemimpin perusahaan melupakan hal-hal detail di sekitarnya. Kurangnya kepekaan para pemimpin, ternyata bisa menimbulkan kerikil-kerikil kecil baik dari sisi internal maupun eksternal. Karena itu, sebelum mewujudkan impian besar Anda, ada baiknya bila Anda menuntaskan hal-hal detail yang ada di sekitar Anda.

Semoga informasi tips motivasi bisnis yang membahas karakteristik pemimpin yang memicu kebangkrutan usaha ini tidak hanya memberikan tambahan wawasan bagi para pembaca maupun pemula, namun juga menginspirasi seluruh masyarakat Indonesia untuk segera membawa kapal perangnya (usahanya) menuju dermaga sukses yang telah diimpikan. Maju terus UKM Indonesia dan salam sukses.

sumber:
http://bisnisukm.com/karakteristik-pemimpin-yang-memicu-kebangkrutan-usaha.html

Profil Usaha



Riz Partner didirikan pada tanggal 7 April 2012 dan berlokasi di lingkungan kampus Universitas Sebelas Maret. Meski Riz Partner dimulai dengan modal seadanya namun dengan niat untuk membantu kebutuhan masyarakat sekitar, terutama kalangan mahasiswa, Riz partner mampu berkembang dengan cepat dan dipercayai oleh banyak organosasi kemahasiswaan. Ibarat bayi yang baru merangkak, Riz partner saat ini berfokus pada penjalinan mitra usaha.

Riz Partner telah memiliki ijin usaha berupa NPWP, SIUP, dan TDP. Rencana jangka panjang kami adalah untuk menjadi sebuah bidang bisnis yang mampu memenuhi kebutuhan organisasi/ instansi secara menyeluruh dan saru atap. Dengan begitu diharapkan efisiensi biaya dan kerja bisa ditingkatkan.